MTsN1 Bandar Lampung
13 Februari 2020 Cerpen: Rabu Sore Kelabu

Cerpen: Rabu Sore Kelabu

Bandar Lampung, 12 Februari 2020.

Aku, duduk kursi, sedang mengamati teman-teman

Sebagai pelajar Aku tak ingin hanya mengikuti kegiatan akademik di kelas saja. Ada beberapa pilihan kegiatan ektra kurikuler di sekolah ku. Osis, Pramuka, PMR, Paskib, Rohis, Science Club, Olahraga, Kesenian, Drumband dan juga Majalan Dinding.

Aku memilih Paskib, memang sih paskib cenderung fisik, Kadang-kadang kamu harus latihan berbaris di bawah terik matahari, namun tak jarang kami berlatih di aula sehingga tidak kepanasan maupun kehujanan.

Minggu ini paskib akan mengikuti lomba yang digelar di SMA 9 Bandar Lampung, sudah beberapa minggu iini kami berlatih dengan padat. Termasuk sore ini sepulang sekolah kami langsung latihan sampai pukul 16 lewat.

Seperti biasa aku dijemput oleh Ayahku, tak jarang ia juga membawa adikku. Dasar adikku itu kecil-kecil hobinya traveling, walaupun naik motor.

Setelah barisan bubar, aku bergegas menuju ke gerbang kelas, kucangklongkan backpack ku dipundak aku melangkah menuju gerbang. Sampai di gerbang aku menoleh ke kanan, benar saja. Ayah dan adikku sudah tiba.

Segera aku menghampiri mereka seraya berkata, “Sudah lama, dik?, Capek ya nunggu kakak?, makannya gak usah ikut jemput kakak”.

Aku segera naik, lalu ayahku memutar gas dengan tangan kanannya, motor bergerak perlahan menyusuri jalan KH. Ahmad Dahlan, belok kiri menuju jalan Jend Sudirman, lalu belok kanan menuju jalan Gajahmada.

Lalu lintas cukup padat, setelah sampai di kantor pos jalan pangeran antasari mesin motor tiba-tiba mati, aku, ayahku, juga adikku turun dari motor, ayah memeriksa bensin, ia buka jok, lalu ia buka tutup tabung bensin, ternyata kehabisan bensin.

Indikator bahan bakar yang ada di panel spedometer sudah tidak berfungsi. Adikku naik ke Jok motor, ayah memegang stang seraya jalan, aku mendorong motor tersebut dari PT. Pos Indoesia, menuju POM Bensin Jl. Pageran Antsari yang jaraknya kurang lebih 600 meter.

“2 liter mbak”, kata ayahku, seraya membuka tutup tangki bensin. “Mulai dari 0 ya, pak”, kata petugas cor bensin.

Setelah menyerahkan uang dan menerima kembaliannya ayahku langsung mengengkol motor tersebut .