SEWOT

Oleh Laskmi Holifah

Di dalam paru-paru terdapat jalur yang bercabang-cabang
Dan pada ujung cabangnya terdapat alveolus yang bentuknya mirip anggur.

Disinilah terjadi pertukaran antara oksigen yang kita hirup dengan CO2 yang akan dibuang keluar.

Semakin lama durasi interaksi antara oksigen yang kita hirup dengan alveolus ini, maka akan semakin banyak pula oksigen yang terserap.

Naah…
Kapan kira-kira waktu interaksi terpanjang antara alveolus dan oksigen itu terjadi…?

Salah satu jawabannya :
Yaitu pada saat shalat dan tilawah Al Qur’an

Jadi..
Pada saat shalat dan tilawah, kita menghirup udara dalam-dalam tapi mengeluarkannya dengan perlahan-lahan.
Pada saat itulah durasi interaksi antara alveolus dan oksigen sangat panjang, sehingga oksigenpun terserap maksimal.

Para ilmuwan memberi istilah pada peristiwa ini dengan sebutan SEWOT, tapi bukan sewot versi Indonesia ..😊

SEWOT itu singkatan dari Shalat is Excercise With Oxigent Therapy.
Ada juga ilmuwan yang mengatakan : “Humming is good for your health”
Bergumam itu baik untuk kesehatanmu.

Itulah mengapa orang muslim yang rajin shalat dan tilawah al Quran terlihat bercahaya pada wajahnya dan lebih sehat.
Dan juga sangat baik untuk penyembuhan penyakit karena kebutuhan manusia yang paling esensial yaitu oksigen dapat terpenuhi secara optimal.

Jadi…
Orang muslim itu panen oksigen setiap kali shalat dan tilawah Al Quran
MASYA ALLAH

Sumber : rangkuman dari beberapa artikel

Bercanda Penuh Cinta

Manusia dalam kehidupannya kerap melakukan hal yang lumrah ini. Ya, Bercanda atau bergurau. Bercanda dilakukan agar pergaulan yang kita jalani tidak kaku, monoton bahkan garing. Bahkan candaan diharapkan melepaskan kepenatan, karena senyuman dan tawa terkadang mampu melepaskan penat. Tetapi terkadang candaan kita melebihi batas wajar sehingga menimbulkan hal yang buruk bagi sekelilingnya.

Kata ‘bercanda’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang masuk ke dalam kelas kata verba (kata kerja). Yang berarti : Bertingkah ; Berkelakar : Bersendau gurau ; Berseloroh.

Bercanda memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga bercanda dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya..

Candaan dalam konteks yang wajar tidak memiliki dampak buruk bagi seseorang yang dianggap obyek dan tampak harmonis dalam canda yang menyenangkan, dengan alasan itu bercanda bukan suatu hal yang dilarang, kadar dan takarannya yang harus diukur dan disesuaikan.

Fenomena yang terjadi di sekeliling kita pada kenyataannya kita lakukan adalah bercanda melampaui batas, bahkan melibatkan orang lain sebagai obyek candaan inilah yang masuk dalam kategori bullying.

Pemahaman mengenai bullying ini harus benar benar kita pahami, agar kita bisa menghindarkan hal yang tidak baik ini.

Bullying itu terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psikologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus. Bentuk-bentuk bullying bisa berupa fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain.

Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara sosial, dan menghancurkan reputasi seseorang. Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.

Paparan di atas jelas jangan sampai tujuan bercanda kita malah tanpa kita sadari menjadi bullying. Alih-alih, melepaskan kepenatan malah menjadi penderitaan. Untuk itulah kita harus tetap mempunyai pedoman dalam bercanda.

Islam telah memberikan tuntunan dalam bercanda agar canda yang dilakukan itu tidak berbalik menjadi dosa. Di antara tuntunan dalam bercanda tersebut adalah sebagai berikut pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia.

Kehormatan harga diri dalam  Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Sabda Nabi SAW, Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya.” (HR Muslim).

Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat [49] :11).

Ketiga, tidak menjadikan canda sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi Muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.

Keempat, isi canda bukan dusta dan tidak dibuat-buat. Sabda Nabi SAW, Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR Abu Dawud).

Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai materi canda. Allah SWT menegaskan, Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah [9]: 65-66)

Islam sebagaimana seharusnya adalah agama yang damai, agama yang harmonis dan rasional. Hal ini dibuktikan dengan ayat Alquran terkait larangan merendahkan orang lain.“Wahai orang-orang yang beriman janganlah salah satu kaum dari kalian menghina kaum yang lain, bisa jadi kaum yang dihina lebih baik dari pada yang menghina” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Logika yang dibangun oleh ayat di atas sangatlah menarik. Merendahkan orang lain dalam bercanda hampir mayoritas karena kelebihan yang dimiliki oleh seseorang dalam beberapa hal. Faktanya manusia adalah makhluk kompleks yang bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Bisa jadi orang yang dianggap miskin justru kaya hatinya. Bisa jadi orang yang dianggap jelek justru banyak hartanya. Bisa jadi orang yang aneh justru memiliki IQ yang lebih tinggi. Dan banyak lagi logika-logika yang menegaskan bahwa tidak layak dalam setiap candaan kita mengandung unsur melemahkan orang lain.

Pada akhirnya marilah kita membiasakan diri dengan gaya bercanda sehat yang tidak mengandung unsur saling merendahkan, menghina, atau menyakiti orang lain dan hendaklah kita selalu menjaga etika dalam bergaul dengan sesama. Terdapat sebuah pernyataan menarik terkait hal ini, “Agama Islam seluruhnya adalah akhlak, maka barang siapa yang menghilangkan etikamu, sesungguhnya ia telah menghilangkan agamamu.” Waallaahu a’lam. (Laskmi)